Social engineering adalah pemerolehan informasi atau maklumat rahasia/sensitif dengan cara menipu pemilik informasi tersebut. Social engineering umumnya dilakukan melalui telepon atau Internet. Social engineering merupakan salah satu metode yang digunakan oleh hacker untuk memperoleh informasi tentang targetnya, dengan cara meminta informasi itu langsung kepada korban atau pihak lain yang mempunyai informasi itu.
Teknik Social Engineering
- Pretexting Pretexting adalah suatu teknik untuk membuat dan menggunakan skenario yang diciptakan (sebuah dalih) yang melibatkan korban yang ditargetkan dengan cara meningkatkan kemungkinan korban membocorkan informasinya. Pretexting bisa disebut sebagai kebohongan yang terencana dimana telah diadakan riset data sebelumnya untuk mendapatkan data-data akurat yang dapat meyakinkan target bahwa kita adalah pihak yang terautorifikasi.
- Diversion Theft Diversion Theft atau yang sering dikenal dengan Corner Game adalah pengalihan yang dilakukan oleh professional yang biasanya dilakukan pada bidan transportasi atau kurir. Dengan meyakinkan kurir bahwa kita adalah pihak legal, kita dapat mengubah tujuan pengiriman suatu barang ke tempat kita.
- Phising Phising adalah suatu teknik penipuan untuk mendapatkan informasi privat. Biasanya teknik phising dilakukan melalui email dengan mengirimkan kode verifikasi bank atau kartu kredit tertentu dan disertai dengan website palsu yang dibuat sedemikian rupa terlihat legal agar target dapat memasukkan account-nya. Teknik phising bisa dilakukan melalui berbagai macam media lain seperti telepon, sms, dsb.
- Baiting Baiting adalah Trojan horse yang diberikan melalui media elektronik pada target yang mengandalkan rasa ingin tahu target. Serangan ini dilakukan dengan menginjeksi malware ke dalam flash disk, atau storage lainnya dan meninggalkannya di tempat umum, seperti toilet umum, telepon umum, dll dengan harapan target akan mengambilnya dan menggunakannya pada komputernya.
- Quid pro pro Quid pro pro adalah sesuatu untuk sesuatu. Penyerang akan menelpon secara acak kepada suatu perusahaan dan mengaku berasal dari technical support dan berharap user menelpon balik untuk meminta bantuan. Kemudian, penyerang akan “membantu” menyelesaikan masalah mereka dan secara diam-diam telah memasukkan malware ke dalam komputer target.
- Dumpster diving Dumpster diving adalah pengkoleksian data dari sampah perusahaan. Bagi perusahaan yang tidak mengetahui betapa berharganya sampah mereka akan menjadi target para hacker. Dari sampah yang dikumpulkan seperti buku telepon, buku manual, dan sebagainya akan memberikan hacker akses besar pada perusahaan tersebut.
- Persuasion Persuasion lebih dapat disebut sebagai teknik psikologis, yaitu memanfaatkan psikologis target untuk dapat memperoleh informasi rahasia suatu perusahaan. Metode dasar dari persuasi ini adalah peniruan, menjilat, kenyamanan, dan berpura-pura sebagai teman lama.
Skenario Social Engineering
- Berlaku sebagai User penting Seorang penipu menelpon help desk bagian divisi teknologi informasi dan mengatakan hal sebagai berikut “Halo, di sini pak Abraham, Direktur Keuangan. Saya mau log in tapi lupa password saya. Boleh tolong beritahu sekarang agar saya dapat segera bekerja?”. Karena takut – dan merasa sedikit tersanjung karena untuk pertama kalinya dapat berbicara dan mendengar suara Direktur Keuangan perusahaannya – yang bersangkutan langsung memberikan password yang dimaksud tanpa rasa curiga sedikitpun. Si penipu bisa tahu nama Direktur Keuangannya adalah Abraham karena melihat dari situs perusahaan.
- Berlaku sebagai User yang sah Dengan mengaku sebagai rekan kerja dari departemen yang berbeda, seorang wanita menelepon staf junior teknologi informasi sambil berkata “Halo, ini Iwan ya? Wan, ini Septi dari Divisi Marketing, dulu kita satu grup waktu outing kantor di Cisarua. Bisa tolong bantu reset password-ku tidak? Dirubah saja menjadi tanggal lahirku. Aku takut ada orang yang tahu passwordku, sementara saat ini aku di luar kantor dan tidak bisa merubahnya. Bisa bantu ya?”. Sang junior yang tahu persis setahun yang lalu merasa berjumpa Septi dalam acara kantor langsung melakukan yang diminta rekan sekerjanya tersebut tanpa melakukan cek dan ricek. Sementara kriminal yang mengaku sebagai Septi mengetahui nama-nama terkait dari majalah dinding “Aktivitas” yang dipajang di lobby perusahaan – dan nomor telepon Iwan diketahuinya dari Satpam dan/atau receptionist.
- Kedok sebagai Mitra Vendor Dalam hal ini penjahat yang mengaku sebagai mitra vendor menelepon bagian operasional teknologi informasi dengan mengajak berbicara hal-hal yang bersifat teknis sebagai berikut: “Pak Aryo, saya Ronald dari PT Teknik Alih Daya Abadi, yang membantu outsource file CRM perusahaan Bapak. Hari ini kami ingin Bapak mencoba modul baru kami secara cuma-cuma. oleh saya tahu username dan password Bapak agar dapat saya bantu instalasi dari tempat saya? Nanti kalau sudah terinstal, Bapak dapat mencoba fitur-fitur dan fasilitas canggih dari program CRM versi terbaru.” Merasa mendapatkan kesempatan, kepercayaan, dan penghargaan, yang bersangkutan langsung memberikan username dan passwordnya kepada si penjahat tanpa merasa curiga sedikitpun. Sekali lagi sang penjahat bisa tahu nama-nama yang bersangkutan melalui berita-berita di koran dan majalah mengenai produk/jasa PT Teknik Alih Daya Abadi dan nama-nama klien utamanya.
- Kedok sebagai Konsultan Audit Kali ini seorang penipu menelpon Manajer Teknologi Informasi dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut: “Selamat pagi Pak Basuki, nama saya Roni Setiadi, auditor teknologi informasi eksternal yang ditunjuk perusahaan untuk melakukan validasi prosedur. Sebagai seorang Manajer Teknologi Informasi, boleh saya tahu bagaimana cara Bapak melindungi website perusahaan agar tidak terkena serangan defacement dari hacker?”. Merasa tertantang kompetensinya, dengan panjang lebar yang bersangkutan cerita mengenai struktur keamanan website yang diimplementasikan perusahaannya. Tentu saja sang kriminal tertawa dan sangat senang sekali mendengarkan bocoran kelemahan ini, sehingga mempermudah yang bersangkutan dalam melakukan serangan.
- Kedok sebagai Penegak Hukum Contoh terakhir ini adalah peristiwa klasik yang sering terjadi dan dipergunakan sebagai pendekatan penjahat kepada calon korbannya: “Selamat sore Pak, kami dari Kepolisian yang bekerjasama dengan Tim Insiden Keamanan Internet Nasional. Hasil monitoring kami memperlihatkan sedang ada serangan menuju server anda dari luar negeri. Kami bermaksud untuk melindunginya. Bisa tolong diberikan perincian kepada kami mengenai topologi dan spesifikasi jaringan anda secara detail?”. Tentu saja yang bersangkutan biasanya langsung memberikan informasi penting tersebut karena merasa takut untuk menanyakan keabsahan atau keaslian identitas penelpon.





